Skandal Bre-X, Penipuan Tambang Emas Terbesar Dunia dari Busang, Indonesia.

Penipuan Tambang Emas Terbesar

Salah satu penipuan terbesar dalam sejarah investasi pertambangan emas dunia ternyata terjadi di Indonesia, tepatnya di Kalimantan.

Bagi sebagian orang mungkin sudah tak asing mengetahui peristiwa ini dan mungkin juga ada yang masih belum tau. Pristiwa ini sendiri terjadi pada zaman orde baru. Saya pun baru tahu tentang berita ini ketika saya semester 3 pada mata kuliah eksplorasi sumber https://www.proautogroupllc.com/ daya bumi. Dimana dosen saya memberikan tugas untuk mencari artikel tentang skandal bre-x busang. Karena saya tidak fokus jadi saya hanya mendengarkan kata busang, dan saya pikir busang adalah nama mineral hehe.

Ketika saya membaca bermacam artikel tentang busang, saya pun kaget. Ternyata busang adalah nama daerah yang berada di provinsi yang sama dengan saya tinggali selama ini. dan yang tak kalah buat saya kaget mengeni berita nya.

Jadi ada seorang ahli geologi asal Filipina bernama Guzman melakukan penipuan mengenai penemuan jutaan ton cadangan emas dan sukses menarik para investor untuk menanamkan modalnya di perusahaan tempat ia berkerja hingga harga sahamnya melonjak tajam pada saat itu. setelah terbongkarnya kasus penipuan yang telah ia lakukan, beredar berita bahwa Guzman bunuh diri dengan melompat dari helikopter dan ditemukan tewas di belantara kalimantan. Hingga saat ini pun kematian guzman juga masih menjadi teka-teki.

Berikut merupakan rangkuman dari beberapa artikel,

Lahir di Manila, Filipina, pada 14 Februari 1956, Guzman merupakan anak kelima dari 12 bersaudara. Ayahnya, Simplicio de Guzman, seorang insinyur geodesi. Guzman berkuliah di Jurusan Geologi Universitas Adamson dan lulus pada 1977. Selama sepuluh tahun, dia bekerja di tambang emas milik Benguet Corporation. Guzman sendiri bermimpi menjadi kaya seumur hidupnya. Dia lantas mencetuskan gagasan salah satu penipuan investasi terbesar di dunia.

Dia berencana meyakinkan dunia bahwa dia berhasil menemukan cadangan emas dalam jumlah besar di Busang, Kalimantan Timur. Tentu saja untuk membuktikannya, dia membutuhkan orang lain agar ceritanya lebih meyakinkan.

Guzman lantas menghubungi ahli geologi lain, John Felderhof yang sangat senang mendengar kabar tersebut. Guzman lalu meyakinkan Felderhof untuk menemukan investor yang mau menanamkan modalnya agar keduanya bisa mengeruk emas di belantara Kalimantan.

Dia meminta untuk mencarikan investor yang berani menghadapi risiko dan pantang menyerah. Felderhof merekomendasikan seorang pengusaha Kanada bernama David Walsh.

Kala itu, Walsh tengah menjabat sebagai CEO Bre-X Gold Minerals, Ltd. perusahaan pertambangan emas di Kanada. Guzman dan Felderhoff lantas menyambut Walsh di Indonesia untuk membicarakan bisnis tersebut.

Pada 1993, sambil menyantap hidangan di salah satu restoran di Indonesia, Guzman dan Felderhoff berhasil mengantongi kontrak proyek senilai US$ 80 ribu atau Rp 904 juta dari Walsh. Bre-X bersedia membeli properti di Busang dan menunjuk Guzman sebagai manajer proyek.

Setelah memperoleh dana dari perusahaan, Guzman membentuk tim khusus dan mulai menarik sampel kandungan emas dari dalam tanah. Setelah sampel dikumpulkan, Guzman mengatakan butuh waktu untuk menganalisa emasnya secara pribadi sebelum dikirimkan ke luar negeri.

Saat itulah, Guzman menghancurkan cincin pernikahannya dan mencampurkan serpihan emas itu dengan sampel batu di Busang. Skema ini disebut `salting` dan berulang kali dilakukan Guzman. Dia menggunakan rasion sekitar 3 ounce emas untuk setiap ton batu yang digali. Lab analisanya sangat meyakinkan dan membuat Bre-X berhasil mengundang perhatian para investor.

Laporan Guzman, cadangan emas di Busang terus bertambah setiap tahun

Pada 1995, Bre-X melalui Guzman mengklaim cadangan emas yang terkandung di lahan Busang itu berjumlah sekitar 30 juta ounce. Setiap tahun, perusahaan terus meningkatkan potensi cadangan emas di lahan tambang tersebut.

Bahkan pada 1997, Bre-X mengumumkan cadangan emas di tempat tersebut berjumlah 70 juta ounce. Dia mulai membayar penduduk lokal untuk emas yang didulang dari sungai. Selama dua tahun setengah dia menggunakan cara tersebut.

Hipotesa cadangan emas di Bre-X terus naik seiring dengan harga sahamnya. Nilai jual saham di Bre-X melesat pesat di bursa saham Alberta hingga ke level 200 dolar Kanada.

Para investor yang skeptis dengan bisnis tambang emas itu lantas mengirim auditor independen untuk mengecak komoditas logam mulia tersebut. Kala itu, para auditor menemukan itu bukan emas hasil tambang melainkan logam mulia yang didulan dari sungai.

Namun Guzman tak kehabisan akal, dia membeberkan teori vulkanik yang membuat para investor kembali percaya dan menanamkan modalnya. Harga saham Bre-X kembali melonjak.

Saat itu, Guzman, Felderhoff dan Walsh menjual porsi sahamnya di Bre-X senilai US$ 100 juta. Untung besar yang didulang dari Kalimantan tersebut lalu mengundang kecurigaan Soeharto yang kala itu menjabat sebagai Presiden Indonesia.

Pada Maret 1997, penipuan yang dijalankan Guzman mulai menghadapi konflik dengan Soeharto yang tidak mau Busang dikuasai sendiri oleh Bre-X. Pemerintah Indonesia lalu mengubah izin eksplorasi Bre-X di Busang.

Campur tangan pemerintah Indonesia ini menjadi awal dari akhir skandal penipuan Bre-X. Perusahaan asal Kanada itu setuju untuk bekerjasama dengan perusahaan tambang AS, Freeport-McMoRan Copper & Gold.

Bre-X hanya diizinkan mengelola 45% kendali pengelolaan tambang tersebut dan sisanya dikelola Free Port. Saat itu saham Bre-X sempat anjlok hingga miliaran dolar. Guzman bahkan sempat dituduh menyebabkan kebakaran di seluruh kantornya guna menghancurkan seluruh barang bukti dan dokumennya.

Ketahuan Menipu, Guzman dianggap bunuh diri

Untuk memperbaiki citra perusahaan, Guzman lantas menunjukkan sampel batu dan serpihan emas pada para investor. Harga saham pun kembali naik dan para investor merasa sangat senang.

Tapi setelah melakukan beberapa kali pengeboran, para penambang Freeport tak menemukan satu pun serpihan emas di Busang. Kecurigaan pun mencuat, Freeport menuntut Guzman untuk menjelaskan situasi terebut. Guzman langsung diterbangkan menggunakan helikopter ke Busang. Saat itu, satu-satunya orang yang bersama dia hanyalah pilot helikopter. Pilot tersebut hanya membuang pandangannya sebenatar dan saat melihat ke belangkang, Guzman sudah tidak ada. Setiap orang menyimpulkan bahwa Guzman melompat ke belantara hutan di bawahnya.

Beberapa hari kemudian, tim penyelamat Indonesia berhasil menemukan tubuh Guzman yang sudah tak bernyawa. Kabarnya, tubuh Guzman sudah tidak berbentuk, membusuk dan sebagian anggota tubuhnya telah dicabik-cabik binatang di hutan. Keluarga Guzman bahkan tidak diizinkan untuk melihat jenazahnya. Meski demikian, banyak hasil investigasi yang mencurigai kematian Guzman palsu dan dia masih hidup bersembunyi di suatu tempat.

Setelah pengumuman kematian Guzman, Walsh membantah mengetahui apapun soal penipuan tersebut. Dia lalu pindah ke Bahamas dan meninggal karena serangan jantung dua tahun kemudian. Sementara Felderhof merupakan satu-satunya yang dituduh bersalah atas penipuan tersebut. Setelah keluar dari penjaga dia tinggal di Cayman Island dengan perjanjian khusus dengan pemerintah Kanada.

Hingga saat ini, banyak orang yang yakin Guzman masih hidup. Salah satu pakar mengatakan, Indonesia merupakan tempat yang mudah untuk hilang dan bersembunyi. Setelah kejadian itu, harga saham Bre-X ambruk hingga ke level nol dan membuat banyak investor mengalami rugi besar karenanya.

Teka-teki matinya Guzman

Pada 18 Maret 1997, Michael de Guzman tiba di Balikpapan. Pada hari itu, dia masih sempat begadang di sebuah tempat karaoke hingga larut malam. Keesokan harinya, dengan menumpang helikopter sewaan milik Indonesia Air Transport yang dikemudikan Edy Tursono, Guzman berniat bertemu dengan David Potter, kala itu Wakil Presiden Eksplorasi Freeport, di Busang, untuk menjelaskan “keanehan” sampel-sampel Bre-X.

Tapi Guzman tak pernah sampai di Busang. Menurut kesimpulan polisi, Guzman sengaja lompat dari helikopter. Dia mengakhiri hidupnya sendiri. “Secara mental, kondisinya memang sedang kurang baik,” ujar Bernhard Leode, teman Guzman di Bre-X, kepada Calgary Herald. Tapi apakah benar dia bunuh diri? Edy Tursono, sang pilot helikopter, mengatakan penumpangnya itu tak tampak sakit. “Dia terlihat normal, tak tampak sakit sama sekali,” kata Edy.

“Sorry, I have to leave. I can’t think of myself as a carrier of hepatitis B,” Guzman menulis dalam secarik kertas yang ditemukan polisi di helikopter. Simplicio “Jojo” de Guzman Jr., adik Guzman, tak percaya kakaknya bunuh diri. “Itu bukan gayanya dan dia sedang ada di puncak dunia,” kata Jojo dikutip Calgary Sun dua bulan lalu. Dia juga menunjuk satu kejanggalan. Dalam surat itu, Guzman menulis nama panggilan istri pertamanya, Teresa, dengan “Thess”. “Padahal dia selalu menulisnya Tess atau Mahal.”

Pada 2005, delapan tahun setelah Guzman diberitakan tewas di belantara Kalimantan, salah satu istri Guzman—dia punya empat istri—Genie de Guzman, mengaku masih menerima kiriman uang dari suaminya. Sang suami kabarnya tinggal di Brasil. Bahkan Simon Sembiring, mantan ketua tim Busang di Departemen Pertambangan dan Energi, pun percaya bukan Guzman yang mati di hutan Kalimantan pada 20 tahun silam itu. “Sampai sekarang saya percaya dia masih hidup,” kata Simon kepada detikX beberapa hari lalu.

Kisah skandal tambang emas Bre-X Minerals ini pun menjadi sumber inspirasi film produksi Hollywood, Gold, yang dibintangi Matthew McConaughey, Édgar Ramírez, dan Bryce Dallas Howard.