Empat Teknologi Senjata Jerman yang Mengubah Dunia

Perang tidak hanya meninggalkan derita, kematian, atau https://www.ligamalaysia.net/ merubah geopolitik. Perang termasuk jadi etalase pamer kemajuan teknologi dan industri senjata. Jerman dalam gejolak Perang Dunia II harus diakui telah meninggalkan warisan yang merubah dunia teknologi militer.

Baik di darat, laut, maupun udara, Jerman punya senjata-senjata canggih yang tak dimiliki Sekutu. Sayangnya bagi Der Führer Adolf Hitler, pengembangan senjata-senjata canggih itu terlambat. Hanya secuil dari beragam rencana senjata jempolan Jerman yang sempat digunakan di palagan lantaran mayoritas baru rampung menjelang perang berakhir.

Alhasil, senjata-senjata itu dicontek dan dikembangkan oleh para pemenang Perang Dunia II: Uni Soviet, Inggris, dan Amerika Serikat. Berikut empat dari senjata itu yang sesudah itu jadi cikal-bakal pengembangan senjata yang tenar hingga kala ini:

Sturmgewehr 44.

Infantri dengan kata lain pasukan darat menjadi inti kemampuan militer suatu negara. Kecanggihan senjata turut menentukan ketangguhan mereka. Salah satu pegangan pasukan infantri Jerman-Nazi paling kondang adalah Sturmgewehr 44 (StG-44).

“Senjata ini adalah papa dari segala senapan serbu yang dikembangkan pada 1941-1942. Senjata ini mengenalkan rencana penggunaan peluru pendek baru bersama jangkauan terbatas agar semburan tembakannya sanggup lebih terkontrol dan karena berdasarkan bahwa umumnya senapan menembakkan peluru bersama jarak 400 mtr. saja,” ungkap Ian Hogg dan Terry Gander dalam Jane’s Guns Recognition Guide.

StG-44 adalah senapan serbu otomatis modern pertama dunia yang desainnya berhulu pada otak Hugo Schmeisser, pengembang senjata andalan Hitler. Schmeisser banyak merancang senapan mesin ringan, antara lain Maschinenpistole 40 (MP-40), yang menjadi pegangan formal tentara Jerman; dan senapan laras panjang Karabiner 98k (Kar-98).

StG-44 berdimensi panjang 94 cm dan bobot 5,13 kg kecuali magasinnya terisi penuh 30 peluru berukuran 7,92×33 mm. Ia lebih pendek dari senapan mesin enteng Jerman lain yang berukuran 7,92×57 mm. Dalam semenit, StG-44 sanggup menyemburkan 500-600 peluru kaliber 8 mm bersama jarak efektif 300 mtr. dalam mode otomatis, dan juga 600 mtr. pada mode semi-otomatis. StG-44 bagaikan paduan MP-40 dan Kar-98, lantaran sanggup menyemburkan peluru layaknya lazimnya senapan mesin enteng tapi akurat sebagaimana senapan laras panjang.

Oleh Schmeisser, senjata ini diberi nama Maschinenpistole 44 (MP-44). Tetapi ketika diperkenalkan kepada Hitler, namanya diganti menjadi Sturmgewehr 44 (StG-44) sebagai bagian dari usaha propaganda. Sebagai percobaannya, StG-44 dipasok untuk Waffen-SS atau pasukan Schutzstaffel, paramiliter Partai Nazi di front Timur medio 1943. Pasukan regular AD Jerman menyusul sesudah itu meski selalu mengadopsi nama awal MP-44.

Sejak 1943 hingga akhir perang, StG-44 diproduksi lebih dari 420 ribu pucuk oleh C.G. Haenel Waffen und Fahrradfabrik. Lantaran tergolong terlambat menjadi pegangan pasukan SS maupun pasukan reguler, StG-44 gagal membantu merubah jalannya perang untuk Jerman. Empat tahun pasca-perang, cetak biru StG-44 dicontek pengembang senjata Uni Soviet Mikhail Kalashnikov, yang sesudah itu merancang senapan serbu paling beken di jagat: Avtomat Kalashnikova dengan kata lain AK-47.

Type XXI Elektroboot

Di laut, Jerman sebagai jago perang perairan bersama memanfaatkan Unterseeboot (U-Boot), terhitung memiliki alutsista canggih berbentuk Type XXI Elektroboot. Ia adalah style kapal selam (kasel) bertenaga listrik pertama dunia yang sukses beroperasi.

Namun layaknya halnya senapan StG-44, kemunculan kasel ini terlambat. Hingga akhir perang, hanya empat yang sukses dibangun dan baru dua yang sanggup digunakan Kriegsmarine (AL Jerman): U-2511 dan U-3008.

Mengutip Erich Groner, Dieter Jung, dan Martin Maass dalam U-Boats and Mine Warfare Vessels: German Warships 1815-1945, Elektroboot Tipe XXI ini baru dibangun mulai 1943 oleh tiga manufaktur: Blohm & Voss di Hamburg, AG Weser di Bremen, dan Schichau-Werke di Danzig bersama memanfaatkan rencana proses tenaga penggerak perhydrol ciptaan ilmuwan roket Hellmuth Walter. Sebagai alternatif dari tenaga listrik yang menjadi penggerak utama kasel ini adalah disel. Kombinasi ini umum digunakan dalam U-Boat Jerman.

Tipe XXI memiliki postur panjang 76,70 meter, lebar delapan meter, dan bobot 1.819 ton. Selain disempurnakan dua mesin disel bersama enam silinder, Type XXI ditenagai dua mesin listrik Siemens-Schuckert. Hasilnya tak hanya memiliki kecepatan yang lebih laju, 15,6 knot di permukaan dan 17,2 knot waktu menyelam, Type XXI sanggup melenggang di bawah kapal-kapal musuh bersama tidak terdeteksi sonar karena nada mesinnya lebih kalem ketimbang kasel-kasel Jerman bertenaga disel.

Type XXI sanggup menyelam hingga 75 jam sebelum harus isi kembali baterai-baterai mesin listriknya. Ia terhitung sanggup menyelam hingga kedalaman 240 meter. Standarnya, Type XXI dipersenjatai enam tabung torpedo diameter 21 inci dan empat meriam C/30 diameter 0,79 inci di geladaknya, dan diawaki 54 personil.

Baca Juga : Jerman Kecam Upaya Israel Tetapkan UNRWA sebagai Organisasi Teroris

Dari empat Type XXI yang diproduksi, baru dua unit yang sempat bertugas. Kasel U-2511 yang dikapteni Korvettenkäpitan Adalbert Schnee baru sekali mencicipi tugas patroli sebagai bagian dari Flotilla ke-11 U-Boat pada 3-6 Mei 1945. Pasca-perang, ia diubah untuk dijadikan kasel penelitian bawah laut.

Sementara, U-3008 yang dipimpin Kapitänleutnant Fokko Schlömer baru berlayar pada 3 Mei 1945 untuk tugas patroli. Tapi ia disergap kapal-kapal Sekutu di hari yang sama. Ia dirampas dan diubah menjadi USS U-3008. Beberapa tahun sehabis perang berakhir, cetak biru Elektroboot Jerman ini dicontek para pemenang perang layaknya Amerika (kasel kelas Tench, Tang, Gato, dan Balao), Inggris (kelas Porpoise), Uni Soviet (kasel kelas Whiskey), lebih-lebih China (kelas Ming); dan negeri netral Swedia (kelas Hajen).

Messerschmitt Me-262

Setelah Perang Dunia II, kemampuan udara merupakan unsur signifikan penentu kemenangan suatu pihak. Amerika dan Rusia selalu bersaing menjadi terdepan sebagai produsen pesawat jet tempur generasi kelima macam F-22 dan F-35 (Amerika) atau Sukhoi Su-57 (Rusia).

Harus diakui, Jermanlah pemilik jet tempur pertama di dunia yang aktif beroperasi. Inggris boleh mengklaim sebagai yang pertama memiliki rencana jet tempur lewat Frank Whittle (Power Jets Ltd.) pada 1936. Tetapi hasilnya berbentuk jet tempur Gloster Meteor F8 baru aktif operasional pada medio Juli 1944. Sementara Luftwaffe (AU Jerman) lewat pabrikan Messerschmitt yang mendesain jet tempur Me-262 di tahun yang mirip layaknya Whittle, telah memanfaatkan jet tempurnya pada April 1944.

Maka Messerschmitt Me-262 sebagai jet tempur pertama di medan perang. Ia terhitung diproduksi massal, sebanyak 1.430 buah hingga akhir Perang Dunia II. Messerschmitt mengakibatkan dua varian, yakni varian Schwalbe (walet) untuk pesawat tempur, dan Sturmvogel (burung pemangsa) untuk pesawat pembom ringan.

Menukil The Illustrated Directory of Fighting Aircraft of World War II karya Bill Gunston, pesawat Me-262 dirancang Willy Messerschmitt lewat proyek pengembangan P.1065 bersama mengambil alih rencana mesin jet ciptaan Hans Joachim Pabst von Ohain sejak 1936. Sayangnya waktu perang telah bergejolak, Messerschmitt terhalang SDM dan bahan baku, mengingat mayoritas insinyurnya dikerahkan untuk mengolah massal pesawat Bf-109 dan Me-209 atas perintah Reichsmarschall Hermann Göring.

Dengan keterbatasan SDM dan bahan baku, Messerschmitt perlahan sanggup selesaikan proyek jet tempur berdimensi 10,6 mtr. x 12,6 mtr. dan juga bobot 6.472 kg itu pada April 1941. Me-262 ini dipersenjatai empat senapan mesin MK-108 (30mm), 24 roket R4M, dan berkemampuan memuat dua bom 250kg. Saat test flight pada Juli 1942, Me-262 yang ditenagai dua mesin turbojet Junkers Jumo 004B-1 sanggup capai kecepatan maksimum 900 km/jam bersama jarak terbang maksimum 1.050 km.

Hitler mulanya enggan memberi lampu hijau untuk mengolah massalnya lantaran lebih mendambakan memperbanyak mengolah pesawat pembom berat. Tetapi berkat bujukan Menteri Persenjataan dan Produksi Perang Albert Speer, Hitler mengizinkan mengolah massal dan Me-262 aktif masuk Luftwaffe pada awal 1944. Sebagai permulaan, Me-262 ditaruh di Jäger Erprobungskommando (EKdo) atau unit pendidikan dan percobaan Luftwaffe pimpinan Kapten Werner Thierfelder pada April 1944

Ketika Me-262 mengudara, tak satupun pesawat tempur Sekutu –yang masih bermesin propeler– sanggup menandingi kecepatannya. Namun penggunaan Me-262 lebih banyak untuk menyerang balik pesawat-pesawat pembom Sekutu yang kian intens membombardir wilayah Jerman sejak awal 1945, bukan untuk pertempuran antarpesawat tempur (dogfight).

“Ini pesawat Blitzkrieg (penyerang kilat). Tak pernah dimaksudkan untuk menjadi dogfighter (petarung udara), melainkan penghancur pesawat-pesawat pembom. Tetapi kelemahan utamanya, Me-262 tak memiliki rem tukik untuk mengakibatkan Anda sanggup menjauhkan tabrakan bersama pesawat pembom yang diserang. Ia harus telah bermanuver menahan dari jarak 200 meter,” ujar Kapten Eric Brown, perwira penerbang AL Inggris yang menjajal Me-262 pasca-perang, dikutip Steve J. Thompson dan Peter C. Smith dalam Air Combat Manoeuvres.

Vergeltungswaffe-2

Selain jet tempur, negeri-negeri adidaya lazimnya ditakuti karena memiliki misil balistik jarak jauh. Sebelum Amerika, Inggris, India, Rusia, dan Korea Utara memiliki senjata ICBM (Intercontinental Ballistic Missile) reguler maupun berhulu ledak nuklir, Jerman telah menggunakannya bersama misil balistik Vergeltungswaffe-2 (V-2). Misil jarak jauh pertama itu merupakan pengembangan dari roket V-1 dengan kata lain bom terbang yang menjadi embrio misil jelajah.

V-2 merupakan buah pikiran dari Dr. Wernher von Braun, ilmuwan roket yang mengembangkan LPR (liquid-propellant rocket) atau roket bertenaga bahan bakar cair lewat proyek “Aggregat” sejak 1941. Dibantu para ilmuwan lain dari pusat penelitian Angkatan Darat Heeresversuchsanstalt di Peneemünde, Von Braun terhitung memanfaatkan belasan ribu pekerja paksa dari kamp konsentrasi Mittlebau-Dora untuk mengerjakan web site konstruksinya di Mittlewerk.

Per 18 Maret 1942, proyek itu rampung dan senjata yang dinamai Aggregat 4 (A-4) itu mulai menjalani serangkaian uji coba meskipun uji coba yang sukses baru berjalan tujuh bulan berselang. Misil itu, menukil Michael Neufeld dalam biografi Wernher von Braun: Dreamer of Space, Engineer of War, berbobot 12.500 kg bersama panjang 14 mtr. dan diameter 1,65 meter. Ia sanggup meluncur bersama jarak maksimal 88 km (206 km vertikal) bersama kecepatan 5.760 km/jam berkat tenaga roket yang memuat 3.810 kg etanol dan 4.910 oksigen cair.

Sampai akhir perang, Jerman sanggup mengolah misil ini hingga 5.200 unit. Misil-misil V-2 itu menjadi senjata teranyar yang dioperasikan tiga batalyon di kesatuan AD Generalkommando XXX pimpinan Jenderal Artileri Erich Heinemann mulai September 1944, dan juga SS Werfer-Abteilung 500 di bawah komando Letjen Hans Kammler mulai Oktober 1944.

Lantaran waktu itu wilayah Jerman telah intens menjadi sasaran bombardir udara Sekutu yang berbasis di Inggris, Hitler menuntut senjata anyar itu diluncurkan sebagai balasan bersama menyasar perkotaan, bukan basis militer. Maka nama misil A-4 sesudah itu diganti menjadi V-2 (vergeltungswaffe) dengan kata lain senjata balas dendam.

Masa-masa teror terdahsyat Hitler bersama V-2 berjalan dalam kurun 12-20 Oktober. Tercatat 3.161 V-2 menyasar kota-kota di Belgia, Inggris, Prancis, dan Belanda. Banyak korban jatuh dari warga sipil. Di London saja capai 2.754 jiwa.

“Saya merasakan penyesalan mendalam untuk para korban roket V-2, tapi selalu ada korban di ke dua belah pihak… Perang adalah perang dan ketika negara aku berperang, telah menjadi kewajiban aku mengusahakan membantu kemenangan peperangan itu,” tutur Von Braun tentang hasil karyanya yang digunakan Hitler untuk menarget warga-warga sipil, dikutip Neufeld.

Warisan Von Braun ini selanjutnya dikembangkan dalam wujud ICBM dan roket luar angkasa mengingat Von Braun direkrut NASA pasca-perang. Von Braun memanfaatkan rencana V-2-nya untuk membangun roket Saturn V dalam program Apollo pada 1960-an.